Surabaya, 17 September 2026 – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) turut mengubah cara manusia mencari, mengolah, dan menggunakan informasi. Perubahan tersebut juga mulai dirasakan di lingkungan perpustakaan, termasuk dalam cara pustakawan memberikan layanan kepada pemustaka.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam LISEN: Library & Information Science National Seminar 2026 yang diselenggarakan oleh HIMAFORSTA Universitas Airlangga. Mengangkat tema “Smart Transformation: Harmoni Peran Human-AI dalam Masa Depan Perpustakaan”, kegiatan ini membahas perkembangan teknologi sekaligus peran manusia dalam menghadapi perubahan di dunia perpustakaan.
Salah satu pembicara dalam kegiatan tersebut adalah Dwi Permana, Pustakawan Xin Zhong School Surabaya, yang membawakan materi berjudul “Pengalaman Praktis Mewujudkan Kolaborasi Human-AI dalam Layanan Perpustakaan.”
Dalam pemaparannya, Dwi Permana berbagi pengalaman mengenai perjalanan pengembangan perpustakaan yang dijalaninya, mulai dari pemanfaatan sistem digital, pengembangan website dan aplikasi perpustakaan, hingga pemanfaatan AI dalam pekerjaan sehari-hari.
Pengalaman tersebut kemudian berkembang pada upaya melihat bagaimana AI dapat diterapkan secara lebih dekat dengan kebutuhan layanan perpustakaan. Salah satunya melalui proyek pengembangan layanan berbasis AI dalam bentuk live chat atau chatbot yang dirancang untuk membantu menjawab kebutuhan informasi pemustaka.
Dwi Permana juga memaparkan gagasan pengembangan AI sebagai asisten pustakawan atau librarian assistant. Gagasan ini dikembangkan untuk membantu pekerjaan tertentu dalam layanan informasi, sehingga AI dapat berperan sebagai asisten yang mendukung pekerjaan pustakawan, bukan menggantikannya.
“Kalau melihat perjalanan saya, sebenarnya AI ini bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul. Sebelumnya kita sudah melewati banyak proses digital. Dari sistem perpustakaan, website, sampai berbagai aplikasi. AI bagi saya merupakan salah satu bagian dari perkembangan teknologi tersebut,” jelasnya.
Dalam praktiknya, AI dapat membantu pustakawan dalam mencari dan mengolah informasi, mengembangkan ide, menyusun dokumen maupun konten, serta membantu menyelesaikan pekerjaan dengan lebih efisien. Namun, kemudahan tersebut tetap perlu diimbangi dengan kemampuan untuk memeriksa dan mengevaluasi informasi yang dihasilkan.
Hal tersebut juga dekat dengan aktivitas mahasiswa. Ketika mendapatkan tugas membaca jurnal yang cukup panjang, terutama dalam bahasa Inggris, AI dapat digunakan untuk membantu mendapatkan gambaran awal mengenai isi jurnal. Namun, hasil dari AI tetap perlu diperiksa dan tidak seharusnya menggantikan proses membaca serta memahami sumber aslinya.
Dalam sesi tersebut, Dwi Permana juga menampilkan slide bertajuk “ChatGPT is Bullshit” sebagai pemantik diskusi mengenai keterbatasan AI. Penggunaan AI, menurutnya, tidak berhenti pada kemampuan membuat prompt. Pengguna juga perlu memahami, memeriksa, dan mengevaluasi informasi yang dihasilkan.
Hal ini berkaitan erat dengan peran pustakawan dalam mendukung literasi informasi. Pustakawan tidak hanya membantu pemustaka menemukan informasi, tetapi juga mendampingi mereka dalam memilih, memahami, dan menggunakan sumber informasi secara tepat.
Karena itu, Dwi Permana melihat hubungan manusia dan AI bukan sebagai sebuah persaingan.
AI dapat membantu mempercepat pekerjaan, sementara manusia tetap memiliki peran dalam memahami konteks, mengevaluasi informasi, menentukan kebutuhan, dan mengambil keputusan.
“Manusia tidak akan digantikan oleh AI. Tetapi manusia yang tidak mau beradaptasi dengan AI bisa kalah bersaing dengan manusia yang menggunakannya,” ungkapnya.
Melalui LISEN 2026, Dwi Permana mengajak peserta melihat AI bukan hanya sebagai teknologi baru, tetapi sebagai alat yang dapat dimanfaatkan secara tepat untuk mendukung pekerjaan dan layanan perpustakaan.
Perubahan teknologi akan terus berjalan. Bagi pustakawan, tantangannya adalah terus belajar dan beradaptasi, sekaligus memastikan teknologi yang digunakan tetap memberikan manfaat bagi pemustaka.
Pada akhirnya, bukan soal memilih manusia atau teknologi, tetapi bagaimana keduanya dapat bekerja bersama.